Sesungguhnya agama Islam ini adalah agama yang mudah. Allah Ta’ala tidaklah menghendaki kesulitan bagi para hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan Dia (Allah) tidaklah sekali-kali menjadikan untuk kalian suatu kesempitan dalam agama.” (QS. Al Hajj: 78)
Rasulullah shollAllahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya agama ini (Islam) adalah mudah, tidaklah seseorang mempersulit agama ini kecuali terkalahkan.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Salah satu bentuk kemudahan dalam Islam ini adalah diperbolehkan bagi seseorang yang hendak melaksanakan sholat untuk bertayammum dengan tanah yang suci ketika dia tidak mendapatkan air untuk berwudhu.
Apa yang Dimaksud dengan Tayammum?
Tayammum secara bahasa artinya menyengaja. Adapun menurut istilah syar’i adalah mengambil tanah yang suci untuk mengusap muka dan tangan dengan niat menghilangkan hadats karena tidak mendapatkan air atau berhalangan menggunakan air. (Lihat buku Thaharah Nabi, Tuntunan Bersuci Lengkap (terjemahan), karya Syaikh Said bin Ali bin wahf Qathani, Hal: 137).
Bagaimana Cara Bertayammum?
Cara bertayammum yang sesuai dengan sunah Rasullullah shollAllahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai berikut:
1. Niat di dalam hati.
Seseorang yang akan melakukan tayammum wajib berniat di dalam hati terlebih dahulu. Berdasarkan sabda Rasulullah shollAllahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya semua amal itu tergantung niatnya, dan seseorang mendapat balasan sesuai dengan yang diniatkannya.” (HR. Bukhori dan Muslim)
2. Membaca Bismillah.
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Huroiroh rodhiyAllahu ‘anhu, bahwa Nabi shollAllahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sholat bagi orang yang tidak berwudhu, dan tidak ada wudhu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Imam Ahmad, dihasankan oleh Syaikh Al Albani)
3. Menepukkan kedua tangan ke tanah yang suci, cukup sekali tepukan. Kemudian mengusap telapak tangan ke muka. Setelah itu mengusap telapak tangan yang satu dengan yang lain secara bergantian, dimulai dari ujung-ujung jari hingga pergelangan tangan.
Hal ini berdasarkan hadits Ammar rodhiyAllahu ‘anhu, “Rasulullah pernah mengutusku untuk suatu keperluan. Ketika itu saya sedang junub dan tidak mendapatkan air. Maka saya berguling-guling di tanah sebagaimana berguling-gulingnya seekor binatang. Lalu saya mendatangi Nabi shollAllahu ‘alaihi wa sallam. Saya ceritakan kejadian itu kepada beliau. Kemudian beliau berkata, “Sebenarnya cukup bagimu untuk menepukkan telapak tangan demikian.” Kemudian beliau menepukkan kedua telapak tangannya ke tanah sekali tepukan, lalu beliau tiup. Setelah itu beliau usapkan ke muka dan kedua telapak tangan beliau.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Anggapan yang Tidak Benar
Ada sebagian orang yang mempunyai anggapan bahwa tayammum itu hanya berlaku untuk sekali sholat. Misalnya, jika ada seseorang yang bertayammum untuk sholat zuhur kemudian masuk waktu sholat ahsar dan dia masih suci, maka dia harus bertayammum lagi.
Yang perlu diperhatikan adalah bahwa tayammum ini adalah pengganti wudhu. Jika seseorang yang sudah berwudhu untuk sholat zuhur kemudian waktu sholat ashar tiba, maka dia tidak wajib berwudhu lagi apabila masih dalam keadaan suci. Demikian juga tayammum, barangsiapa yang membedakan antara kedua hal ini maka dia harus mendatangkan dalil yang mendukung pendapatnya tersebut.
Demikianlah penjelasan singkat tentang tayammum yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah shollAllahu ‘alaihi wa sallam. Semoga bermanfaat bagi kita semua.
Sesungguhnya Allah SWT telah meletakan kejayaan,kesuksesan manusia di dunia dan akhirat hanya dalam amalan agama yang sempurna ,seperti yang di contohkan oleh Nabi Muhammad SAW
10/04/12
02/04/12
Pentingnya Shalat Berjama'ah Di Masjid
KEUTAMAAN SHALAT BERJAMA’AH DI MASJID (1)
Bagian pertama dari dua tulisan
Shalat adalah rukun
Islam kedua dan merupakan rukun Islam yang amat penting setelah
syahadatain. Shalat merupakan ibadah yang harus ditunaikan dalam
waktunya yang terbatas (shalat memiliki waktu-waktu tertentu) dan Allah
memerintahkan kita untuk selalu menjaganya. Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya shalat bagi orang mukmin ialah kewajiban yang tertentu (telah ditetapkan) waktunya.” (QS. An-Nisa:103)
“Jagalah shalat-shalat(mu) dan shalat wustha, dan berdirilah untuk Allah dalam keadaan khusyu’.” (QS. Al-Baqarah:238)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Islam dibangun
diatas lima perkara: syahadat bahwasanya tidak ada ilah yg berhak di
sembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, dan mendirikan
shalat…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sungguh telah banyak kaum
muslimin yang meninggalkan shalat, baik itu yang tidak mendirikan shalat
sama sekali ataupun menyia-nyiakan shalat dengan mengakhirkan waktu
shalat. Allah Ta’ala telah mengancam orang-orang yang meremehkan dan
mengakhirkan shalat dari waktunya. Allah berfirman:
“Maka datanglah sesudah mereka
(sesudah orang-orang pilihan Allah) pengganti yang menyia-nyiakan shalat
dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui
(akibat) kesesatannya.” (QS. Maryam:59)
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (Yaitu) mereka yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al Ma’un:4-5)
Dan hendaknya orang-orang
yang masih mempunyai iman di hatinya takut akan sabda Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Dari Jabir radhiallah anhu, ia berkata:
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda,
‘Sesungguhnya (batas) antara seseorang dengan syirik dan kafir adalah meninggalkan shalat’.” (HR. Muslim)
Pada hadits Buraidah radhiallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Perjanjian antara kita dengan mereka ialah shalat, barangsiapa yang meninggalkannya maka ia telah kafir.” (HR. Ahmad dan Ahlus sunan mengeluarkannya dg sanad shahih).
Sesungguhnya shalat adalah penghubung antara hamba dengan Tuhannya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Sesungguhnya seseorang dari kamu jika sedang shalat, berarti ia bermunajat (berbicara) kepada Tuhannya.” (HR. Bukhari).
Dalam hadits qudsy, Allah Ta’ala berfirman:
“Aku membagi
shalat antara Aku dan hamba-Ku dalam dua bagian. Bagi hamba-Ku apa yang
ia minta (akan diberikan). Maka jika hambaku mengucapkan:
‘Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam’, Maka Allah menjawab: ‘Hamba-Ku memuji-Ku’. Jika ia mengucapkan:
‘Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang’, Allah menjawab:’Hambaku menyanjung-Ku’. Jika ia mengucapkan:
‘Yang menguasai hari pembalasan’, Allah menjawab:’Hamba-Ku mengagungkan-Ku’. Jika ia mengucapkan:
‘Hanya Engkau yang kami sembah
dan hanya Engkau yang kami mohon pertolongan’, Allah menjawab: ‘Ini
bagian-Ku dan bagian hamba-Ku, dan baginya apa yang dia minta.’ Apabila
ia membaca:
‘Tunjukilah kami jalan yang
lurus (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat , bukan
(jalan) mereka yang dimurkai dan bukan pula (jalan) mereka yang sesat.’ Maka Allah menjawab:’Ini bagian hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.’” (HR.Muslim)
Termasuk perkara yang menghiasi shalat
adalah perintah untuk melakukan shalat berjama’ah. Bahkan begitu
pentingnya shalat berjama’ah sampai-sampai mulai zaman Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sampai pada zaman para imam madzhab, mereka
semua sangat memperhatikannya. Bukahkah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wassalam sampai pernah mengucapkan keinginannya untuk menyuruh seseorang
mengimami orang-orang, dan yang lainnya mencari kayu bakar yang
kemudian akan digunakan untuk membakar rumah-rumah orang yang tidak
menghadiri shalat berjama’ah?.
Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam juga pernah bersabda:
“Barangsiapa yang mendengar adzan, lalu ia tidak mendatanginya (ke masjid), maka tidak ada shalat baginya.” (HR. Ibnu Majah, hadits ini shahih)
Berkata Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu:
“Barangsiapa yang suka bertemu Allah
kelak sebagai seorang muslim, maka hendaknya ia menjaga
shalat-shalatnya, dengan shalat-shalat itu ia dipanggil. sesungguhnya
Allah Ta’ala menggariskan kepada Nabi kalian jalan-jalan petunjuk
(sunnah-sunnah). Seandainya kalian shalat dirumah, seperti orang yang
terlambat ini shalat dirumahnya, niscaya kalian telah meninggalkan
sunnah Nabi kalian. Jika kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya
kalian tersesat. Dan tidaklah seorang laki-laki bersuci dengan sempurna
lalu sengaja ke masjid di antara masjid-masjid (yang ada) kecuali Allah
menuliskan baginya satu kebaikan untuk setiap langkah yang ia ayunkan
dan mengangkat pula dengannya satu derajat dan dengannya pula dihapus
satu dosa. Sebagaimana yang kalian ketahui, tak seorangpun
meninggalkannya (shalat berjama’ah) kecuali orang munafik yang nyata
kemunafikannya. Dan sungguh orang (yang berhalangan) pada masa itu,
dibawa datang (ke masjid) dengan dipapah oleh dua orang lalu
diberdirikan di dalam shaf.” (HR. Muslim)
Melaksanakan shalat
berjama’ah juga merupakan ibadah yang paling ditekankan, ketaatan
terbesar dan juga syi’ar Islam yang paling agung, tetapi banyak kalangan
yang menisbatkan diri kepada Islam meremehkan hal ini. Sikap meremehkan
ini bisa karena beberapa faktor, antara lain:
a.
Mereka tidak mengetahui apa yang disiapkan oleh Allah Ta’ala berupa
ganjaran yang besar dan pahala yang melimpah bagi orang yang shalat
berjama’ah atau mereka tidak menghayati dan tidak mengingatnya.
b. Mereka tidak mengetahui hukum shalat berjama’ah atau pura-pura tidak mengetahuinya.
Oleh karena itulah, dibawah ini akan saya sampaikan keutamaan-keutamaan shalat berjama’ah dimasjid.
KEUTAMAAN SHALAT BERJAMAH
A. Hati yang Bergantung di Masjid akan Berada di Bawah Naungan (‘Arsy) Allah Ta’ala Pada Hari Kiamat.
Di antara apa yang
menunjukkan keutamaan shalat berjama’ah ialah bahwa siapa yang sangat
mencintai masjid untuk menunaikan shalat berjama’ah di dalamnya, maka
Allah Ta’ala akan menaunginya di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak
ada naungan kecuali naungan-Nya. Dari sahabat Abu Hurairah radhiallah
anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau bersabda:
“Ada tujuh
golongan yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya pada hari
yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: imam yang adil, pemuda yang
tumbuh dalam beribadah kepada Rabb-nya, seseorang yang hatinya
bergantung di masjid-masjid, dua orang yang saling mencintai karena
Allah berkumpul dan berpisah karena-Nya, seseorang yang dinginkan
(berzina) oleh wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, maka ia
mengatakan,’ Sesungguhnya aku takut kepada Allah’,seseorang yang
bersadaqah dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak
mengetahui apa yang di nafkahkan oleh tangan kanannya, dan seseorang
yang mengingat Allah dalam keadaan sepi (sendiri) lalu kedua matanya
berlinang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam Nawawi rahimahullah mengatakan saat menjelaskan sabdanya, “Dan seseorang yang hatinya bergantung di masjid-masjid.”
“artinya, sangat
mencintainya dan senantiasa melaksanakan shalat berjamaah di dalamnya.
Maknanya bukan terus-menerus duduk di masjid.” (Syarh an Nawawi VII/121)
Al ‘Allamah al ‘Aini rahimahullah menjelaska apa yang dapat dipetik dari sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi Wassalam ini, “Didalamnya
berisi keutamaan orang yang senantiasa berada di masjid untuk
melaksanakan shalat berjama’ah, karena masjid adalah rumah Allah dan
rumah setiap orang yang bertakwa. Sudah sepatutnya siapa yang dikunjungi
memuliakan orang yang berkunjung; maka bagaimana halnya dengan Rabb
Yang Maha Pemurah?”.
B. Keutamaan Berjalan ke Masjid untuk Melaksanakan Shalat Berjama’ah
1. Dicatatnya langkah-langkah kaki menuju masjid.
(Rasul) yang berbicara dengan wahyu,
kekasih yang mulia Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menjelaskan bahwa
langkah kaki seorang muslim menuju masjid akan dicatat. Imam Muslim
meriwayatkan dai Jabir bin Abdillah radhiallahu anhuma, ia mengatakan,”Bani
Salimah ingin pindah ke dekat masjid, sedangkan tempat tersebut kosong.
Ketika hal itu sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam,
maka beliau bersabda:
“Wahai Bani Salimah! Tetaplah di pemukiman kalian, karena langkah-langkah kalian akan dicatat.”
Mereka mengatakan:
“Tidak ada yang mengembirakan kami bila kami berpindah.” (HR. Muslim)
Imam Nawawi rahimahullah mengatakan dalam menjelaskan sabdanya: “Wahai Bani Salimah! Tetaplah di pemukiman kalian, karena langkah-langkah kalian akan di catat.”
“Artinya, tetaplah dipemukiman kalian!
Sebab, jika kalian tetap di pemukiamn kalian, maka jejak-jejak dan
langkah-langkah kalian yang banyak menuju ke masjid akan dicatat.”
(Syarh an NawawiV/169)
‘Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma mengatakan, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam sunannya, “Pemukiman kaum Anshar sangat jauh dari masjid, lalu mereka ingin agar dekat dengannya, maka turunlah ayat ini,
“Dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.”(QS. Yasin:12)
Akhirnya, mereka tetap tinggal di pemukiman mereka.” (HR.Ibnu Majah)
Pencatatan langkah-langkah
orang yang menuju masjid bukan hanya ketika ia pergi ke masjid, tetapi
juga dicatat ketika pulang darinya. Imam Muslim meriwayatkan dari Ubay
bin Ka’ab radhiallahu anhu tentang kisah seorang Anshar yang tidak
pernah tertinggal dari shalat berjama’ah, dan tidak pula ia menginginkan
rumahnya berdekatan dengan masjid, bahwa ia berkata kepada Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wassalam:
“Aku tidak bergembira
jika rumahku (terletak) didekat masjid. Aku ingin agar langkahku ke
masjid dan kepulanganku ketika aku kembali kepada keluargaku dicatat.”
Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Allah telah menghimpun semua itu untukmu.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat Ibnu Hibban:
“Allah telah memberikan itu semua kepadamu. Allah telah memberikan kepadamu apa yang engkau cari, semuanya.” (HR.Ibnu Majah)
2. Para Malaikat yang mulia saling berebut untuk mencatatnya.
Diantara dalil yang
menunjukkan keutamaan berjalan ke masjid untuk menunaikan shalat
berjama’ah bahwa Allah meninggikan kedudukan langkah-langkah orang yang
(berjalan) menuju ke masjid, bahkan para Malaikat yang didekatkan
(kepada Allah) berebut untuk mencatatnya dan membawanya naik ke langit.
Imam at Tirmidzi rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu anhuma, ia mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Tadi malan
Rabb-ku tabaarakta wata’aala, mendatangiku dalam rupa yang paling
indah.”(Perawi mengatakan,’Aku menduganya mengatakan,’Dalam mimpi.’).
Lalu Dia berfirman, “Wahai Muhammad! Tahukah engkau, untuk apa para
Malaikat yang mulia saling berebut?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wassalam berkata:”Aku menjawab,’Tidak’. Lalu Dia meletakkan Tangan-Nya
di antara kedua pundakku sehingga aku merasakan kesejukannya di dadaku
(atau beliau mengatakan,’Di leherku’). Lalu aku mengetahui apa yang ada
di langit dan apa yang ada di bumi.”Dia berfirman,”Wahai
Muhammad!Tahukah engkau untuk apa para Malaikat yang mulia saling
berebut?” Aku menjawab,”Ya, tentang kaffarat (perkara-perkara yang
menghapuskan dosa). Kaffarat itu adalah diam di masjid setelah
melaksanakan shalat, berjalan kaki untuk melaksanakan shalat berjama’ah,
dan menyempurnakan wudhu pada saat yang tidak disukai.” (HR. Tirmidzi, hadits ini shahih).
Seandainya berjalan kaki
untuk shalat berjama’ah tidak termasuk amal yang mulia, niscaya para
Malaikat muqarrabun tidak akan berebut untuk mencatat dan membawanya
naik ke langit.
3. Berjalan menuju
shalat berjama’ah termasuk salah satu sebab mendapatkan jaminan berupa
kehidupan yang baik dan kematian yang baik pula.
Tidak hanya para Malaikat
saling berebut untuk mencatat amalan berjalan kaki menuju shalat
berjama’ah, bahkan Allah menjadikan jaminan kehidupan yang baik dan
kematian yang baik pula. Disebutkan dalam hadist terdahulu:
“Barangsiapa
yang melakukan hal itu – yakni tiga amalan yang disebutkan dalam hadits,
di antaranya berjalan kaki menuju shalat berjama’ah – maka ia hidup
dengan baik dan mati dengan baik pula.”
Betapa besar jaminan ini!
Kehidupan yang baikdan kematian yang baik. siapakah yang menjanjikan hal
itu? Dia-lah Allah Yang Maha Esa, yang tidak ada seorangpun yang lebih
menepati janji selain Dia.
4. Berjalan menuju shalar berjama’ah termasuk salah satu sebab dihapuskannya kesalahan-kesalahan dan ditinggikannya derajat.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Maukah aku
tunjukkan kepada kalian tentang perkara yang akan menghapuskan
kesalahan-kesalahan dan juga mengangkat beberapa derajat?” Para sahabat
menjawab,”Tentu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda,”Menyempurnakan
wudhu’ pada saat yang tidak disukai, banyak melangkah ke masjid-masjid,
dan menunggu shalat setelah melaksanakan shalat. Maka, itulah ar-tibath
(berjuang di jalan Allah).” (HR. Muslim).
Ar-ribath pada asalnya
-sebagaimana dikatakan oleh al Imam Ibnul Atsir–adalah berdiri untuk
berjihad untuk memerangi musuh, mengikat kuda dan menyiapkannya. Nabi
Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menyerupakan dengannya apa yang telah
disebutkan berupa amal-amal shalih dan peribadahan dengannya.
Penyerupaan ini juga menegaskan besarnya kedudukan tiga amalan yang
tersebut didalam hadits, di antaranya banyak melangkah ke masjid.
Keutaman ini juga berlaku
untuk seseorang yang melangkah keluar dari masjid, Imam Ahmad
rahimahullah meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Amr radhiallahu anhuma, ia
mengatakan,”Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Barangsiapa
yang pergi menuju masjid untuk shalat berjama’ah, maka satu langkah akan
menghapuskan satu kesalahan dan satu langkah lainnya akan ditulis
sebagai satu kebajikan untuknya, baik ketika pergi maupun pulangnya.” (HR. Ahmad, hadits ini shahih).
5. Pahala orang
yang keluar dalam keadaan suci (telah berwudhu) untuk melaksanakan
shalat berjama’ah seperti pahala orang yang melaksanakan haji dan umrah.
Imam Ahmad dan Abu Dawud
meriwayatkan , dari sahabat Abu Umamah radhiallahu anhu. Ia mengatakan
bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Barangsiapa
yang keluar dari rumahnya menuju masjid dalam keadaan bersuci (telah
berwudhu’) untuk melaksanakan shalat fardhu (berjama’ah), maka pahalanya
seperti pahala orang yang melaksanakan haji dan ihram.” (Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al Albani).
Zainul ‘Arab mengatakan dalam menjelaskan sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam: “Seperti pahala orang yang melaksanakan haji dan ihram,” “Yakni, pahalanya sempurna.” (‘Aunul Ma’buud II/357)
Allaahu Akbar, jika
sedemikian besarnya pahala orang yang keluar untuk menunaikan shalat
berjama’ah , maka bagaimana halnya pahala melakukan shalat berjama’ah?
6. Orang yang keluar (menuju masjid) untuk melaksanakan shalat berjama’ah berada dalam jaminan Allah Ta’ala.
Nabi Shalallahu ‘Alaihi
Wassalam menjelaskan bahwa orang yang keluar menuju shalat berjama’ah
berada dalam jaminan Allah Ta’ala. Imam bu Dawud rahimahullah
meriwayatkan dari Abu Umamah radhiallahu anhu, dari Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau bersabda:
“Ada tiga
golongan yang semuanya dijamin oleh Allah Ta’ala, yaitu orang yang
keluar untuk berperang di jalan Allah, maka ia dijamin oleh Allah hingga
Dia mewafatkannya lalu memasukkannya ke dalam Surga atau
mengembalikannya dengan membawa pahala dan ghanimah, kemudian orang yang
pergi ke masjid, maka ia dijamin oleh Allah hingga Dia mewafatkannya
lalau memasukkannya ke dalam Surga atau mengembalikannya dengan membawa
pahala, dan orang yang masuk rumahnya dengan mengucapkan salam, maka ia
dijamin oleh Allah.” (HR. Abu Dawud, di shahihkan oleh syaikh al Albani)
7. Orang yang keluar untuk melaksanakan shalat berjama’ah berada dalam shalat hingga kembali ke rumah.
Imam Ibnu Khuzaimah
meriwayatkan dalam shahihnya dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, ia
mengatakan,”Abul Qasim Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Jika salah
seorang dari kalian berwudhu’ di rumahnya, kemudian datang ke masjid,
maka ia berada dalam shalat hingga ia kembali. Oleh karenanya, jangan
mengatakan demikian-seraya menjaringkann diantara jari-jemarinya-.” (HR. Ibnu Khuzaimah, di shahihkan oleh Syaikh al Albani)
8. Kabar gembira
bagi orang-orang yang berjalan di kegelapan (untuk melaksanakan shalat
berjama’ah) dengan memperoleh cahaya yang sempurna pada hari Kiamat.
Imam Ibnu Majah
meriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad as Sa’di radhiallahu anhu, ia
mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Hendaklah
orang-orang yang berjalan di kegelapan menuju masjid bergembira dengan
(mendapatkan) cahaya yang sempurna pada hari Kiamat.” (HR.Ibnu Majah, syaikh al Albani menilainya shahih)
Ath Thayyibi rahimahullah
mengatakan,” Tentang disifatinya cahaya dengan kesempurnaan dan
pembatasannya dengan (terjadinya di) hari Kiamat, mengisyaratkan kepada
wajah kaum mukminin pada hari Kiamat, sebagaimana dalam firman Allah:
“Sedang cahaya
mereka memancar dihadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka
mengatakan,’Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami.’” (QS. At Tahriim:8) (dinukil dari ‘Aunul Ma’buud II/268)
Disampaing itu Nabi
Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memerintahkan kepada semua pihak agar
memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan di kegelapan
menuju masjid dengan kabar gembira yang besar ini. Imam Abu Dawud
meriwayatkan dari Buraidah radhiallahu anhu, Rasulullah Shalallahu
‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Berilah kabar
gembira kepada orang-orang yang berjalan di kegelapan menuju masjid
dengan cahay (yang akan diperolehnya) pada hari Kiamat.” (HR. Abu Dawud, di shahihkan oleh Syaikh al Albani)
Al-‘Allamah ‘Abdur Ra-uf al Munawi rahimahullah menjelaskan hadits ini, “Ketika
mereka berjalan dalam kesulitan karena senantiasa berjalan dalam
kegelapan malam menuju ketaatan, maka mereka diberi balasan berupa cahay
yang menerangi mereka pada hari Kiamat.” (Faidhul Qadiir III/201).
9. Allah menyiapkan persinggahan di Surga bagi siapa yang pergi menuju masjid atau pulang (darinya).
Di riwayatkan dari asy Syaikhan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau bersabda:
“Barangsiapa
yang pergi ke masjid dan pulang (darinya), maka Allah menyiapkan
untuknya persinggahan di Surga setiap kali pergi dan pulang.” (Muttafaq ‘alaih, lafazh ini milik Bukhari).
Jika persinggahan orang
yang pergi menuju masjid atau pulang darinya disiapkan oleh Allah, Rabb
langit dan bumi serta Pencipta alam semesta seluruhnya, maka bagaimana
persingahan itu??
C. Orang Yang Datang ke Masjid adalah Tamu Allah Ta’ala
Di antara apa yang menunjukkan keutamaan
shalat berjama’ah di masjid adalah apa yang dijelaskan oleh Nabi
Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bahwa orang yang datang ke masjid adalah
tamu Allah Ta’ala, dan yang dikunjungi wajib memuliakan tamunya. Imam
ath Thabrani meriwayatkan dari Salman radhiallahu anhu bahwa Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Barangsiapa yang berwudhu’ di
rumahnya dengan sempurna kemudian mendatangi masjid, maka ia adalah
tamu Allah, dan siapa yang di kunjunginya wajib memuliakan tamunya.” (HR. ath Thabrani)
Bagaimana cara Allah
memuliakan tamu-Nya, sedangkan Dia adalah Rabb yang paling Pemurah,
Penguasa langit dan bumi? Para sahabat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi
Wassalam juga menegaskan hal ini. Imam Ibnul Mubarak rahimahullah
meriwayatkan dari ‘Amr bin Maimun, ia mengatakan, “Para sahabat
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam mengatakan,’Rumah Allah di bumi
adalah masjid, dan Allah wajib memuliakan siapa yang mengunjungi-Nya di
dalamnya.’” (Kiitab az Zuhd)
D. Allah Ta’ala Bergembira dengan Kedatangan Hamba-Nya ke Masjid untuk Melaksanakan Shalat Berjama’ah
Imam Ibnu Khuzaimah
meriwayatkan dari Abu Hurairah radiallahu anhu, ia mengatakan bahwa
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Tidaklah salah
seorang dari kalian berwudhu’ dengan baik dan sempurna kemudian
mendatangi masjid, ia tidak menginginkan kecuali shalat di dalamnya,
melainkan Allah bergembira kepadanya sebagaimana keluarga orang yang
pergi jauh bergembira dengan kedatangannya.” (HR.Ibnu Khuzaimah, dishahihkan oleh Syaikh al Albani)
Imam Ibnul Atsir rahimahullah mengatakan,”Al
Bassyu adalah kegembiraan kawan dengan kawannya, lemah lembut dalam
persoalan dan penyambutannya. Ini adalah permisalan yang dibuat tentang
penyambutan Allah kepadanya dengan karunia-Nya, mendekatkannya
(kepadanya) dan memuliakannya.” (An-Nihaayah fii Ghariibil Hadits wal
Atsar I/130).
E. Keutamaan Menunggu Shalat
Orang yang duduk menunggu
shalat, maka ia berada dalam shalat dan Malaikat memohonkan ampunan
serta memohonkan rahmat untuknya. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu
Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam
bersabda:
“Salah seorang
dari kalian duduk untuk menunggu shalat, maka ia berada dalam shalat
selagi belum berhadats, dan para Malaikat berdo’a untuknya:’Ya Allah!
Berikanlah ampunan kepadanya, ya Allah! Rahmatilah ia’.” (HR. Muslim).
30/03/12
Manfaat Berwudhu
1. Berkumur
Berkumur-kumur dimaksudkan untuk menjaga kebersihan mulut dan kerongkongan dari peradangan dan pembusukan pada gusi.Dan berkumur juga menjaga gigi dari sisa-sisa makanan yang menempel.
2. Membersihkan rongga hidung
Dalam buku Al-I’jaaz Al-Ilmiy fii Al-Islam wa Al-Sunnah Al-Nabawiyah dijelaskan, ilmu kontemporer menetapkan setelah melalui eksperimen panjang, ternyata orang yang selalu berwudhu mayoritas hidung mereka lebih bersih, tidak terdapat berbagai mikroba.
Rongga hidung bisa mengantarkan berbagai penyakit. Dari hidung, kuman masuk ke tenggorokan dan terjadilah berbagai radang dan penyakit. Apalagi jika sampai masuk ke dalam aliran darah. Barangkali inilah hikmah dianjurkannya istinsyaaq (memasukkan air ke dalam hidung) sebanyak tiga kali kemudian menyemburkannya setiap kali wudhu.
Berkumur-kumur dimaksudkan untuk menjaga kebersihan mulut dan kerongkongan dari peradangan dan pembusukan pada gusi.Dan berkumur juga menjaga gigi dari sisa-sisa makanan yang menempel.
2. Membersihkan rongga hidung
Dalam buku Al-I’jaaz Al-Ilmiy fii Al-Islam wa Al-Sunnah Al-Nabawiyah dijelaskan, ilmu kontemporer menetapkan setelah melalui eksperimen panjang, ternyata orang yang selalu berwudhu mayoritas hidung mereka lebih bersih, tidak terdapat berbagai mikroba.
Rongga hidung bisa mengantarkan berbagai penyakit. Dari hidung, kuman masuk ke tenggorokan dan terjadilah berbagai radang dan penyakit. Apalagi jika sampai masuk ke dalam aliran darah. Barangkali inilah hikmah dianjurkannya istinsyaaq (memasukkan air ke dalam hidung) sebanyak tiga kali kemudian menyemburkannya setiap kali wudhu.
3. Membasuh Muka
Kelika membasuh muka (untuk mengerjakan shalat)kita bisa lihat beberapa manfaatnya,misalnya pada dua hal berikut :
* Pertama, wajah kita akan bersih dari kotoran berupa debu dan lainnya Akhimya perasaan senang dan puas menyertai diri karena wajah telah bersih, dan tidak kalah pentingnya kita merasa sehat.
* Kedua, dari hakikat membasuh wajah, suatu isyarat bahwa diri kita siap berhadapan dengan Yang Maha Kuasa Diakui, anggota tubuh kita yang selalu tampak dan disepakati paling indah adalah wajah. Maka wajah kita yang telah indah dibasuh/disirami air lagi agar lebih indah menghadapi panggilan Allah SWT saat shalat. Maka seyogyanyalah setelah berwudhu kita gembira dan senang melaksanakan shalat bukannya malas dan tidak bersemangat. Sepertihalnya di dunia, di akhirat kelak orang yang senang akan terlihat dari wajahnya Allah SWT berfirman : “Banyak muka pada waktu itu berseri-seri, tertawa dan gembira” (QS.’Abasa: 38-39).
4. Mencuci Tangan
Lahiriyahnya kita membersihkan tangan dengan air wudhu dari kotoran. Secara hakikatnya : kita menyadari kedua tangan ini sering berbuat dosa Maka saat berwudhu kita seperti diingatkan agar menjaga tangan dari perbuatan dosa. Kita ketahui Allah SWT memberi dua tangan pada manusia, tetapi bahaya yang ditimbulkan oleh tangan itu berbeda bagi setiap orang. Misalnya : mencuri. Tangan juga dapat diartikan kekuasaaan. Jika orang miskin mencuri pakai tangan, orang “gede” tidak perlu dengan tangan langsung, tetapi bisa melalui perintah pada orang lain atau melalui penipuan, korupsi dan sebagainya.
5. Menyapu Sebagian Kepala
Secara lahiriyah, kita menyapu kepala dengan air saat berwudhu, agar kepala dan rambut bersih dari kotoran, sekaligus memberi kesegaran bagi kepala itu sendiri.Di kepala terdapat akal manusia. Akal menjadikan manusia dapat membedakan baik dan buruk, maka secara rohaniah diharapkan agar akal kita terus berupaya memahami urusan akhirat, bukan hanya berpikir untuk duma semata.
6. Mencuci Kaki
Sama halnya dengan mencuci tangan, mencuci kaki juga berfungsi membersihkan kaki dan kotoran, berupa debu, bakteri, dan lainnya yang merusak kulit. Dari sisi maknawinya kaki diibaratkan alat transportasi tubuh, ia dapat melangkah ke mana-mana, ke tempat yang baik dan buruk. Saat mencuci kaki ketika berwudhu, kita diingatkan kembali agar melangkahkan kaki ketempat yang baik saja.Contohnya seperti ke tempat shalat yang sebentar lagi dilakukan saat selesai wudhu.
Kelika membasuh muka (untuk mengerjakan shalat)kita bisa lihat beberapa manfaatnya,misalnya pada dua hal berikut :
* Pertama, wajah kita akan bersih dari kotoran berupa debu dan lainnya Akhimya perasaan senang dan puas menyertai diri karena wajah telah bersih, dan tidak kalah pentingnya kita merasa sehat.
* Kedua, dari hakikat membasuh wajah, suatu isyarat bahwa diri kita siap berhadapan dengan Yang Maha Kuasa Diakui, anggota tubuh kita yang selalu tampak dan disepakati paling indah adalah wajah. Maka wajah kita yang telah indah dibasuh/disirami air lagi agar lebih indah menghadapi panggilan Allah SWT saat shalat. Maka seyogyanyalah setelah berwudhu kita gembira dan senang melaksanakan shalat bukannya malas dan tidak bersemangat. Sepertihalnya di dunia, di akhirat kelak orang yang senang akan terlihat dari wajahnya Allah SWT berfirman : “Banyak muka pada waktu itu berseri-seri, tertawa dan gembira” (QS.’Abasa: 38-39).
4. Mencuci Tangan
Lahiriyahnya kita membersihkan tangan dengan air wudhu dari kotoran. Secara hakikatnya : kita menyadari kedua tangan ini sering berbuat dosa Maka saat berwudhu kita seperti diingatkan agar menjaga tangan dari perbuatan dosa. Kita ketahui Allah SWT memberi dua tangan pada manusia, tetapi bahaya yang ditimbulkan oleh tangan itu berbeda bagi setiap orang. Misalnya : mencuri. Tangan juga dapat diartikan kekuasaaan. Jika orang miskin mencuri pakai tangan, orang “gede” tidak perlu dengan tangan langsung, tetapi bisa melalui perintah pada orang lain atau melalui penipuan, korupsi dan sebagainya.
5. Menyapu Sebagian Kepala
Secara lahiriyah, kita menyapu kepala dengan air saat berwudhu, agar kepala dan rambut bersih dari kotoran, sekaligus memberi kesegaran bagi kepala itu sendiri.Di kepala terdapat akal manusia. Akal menjadikan manusia dapat membedakan baik dan buruk, maka secara rohaniah diharapkan agar akal kita terus berupaya memahami urusan akhirat, bukan hanya berpikir untuk duma semata.
6. Mencuci Kaki
Sama halnya dengan mencuci tangan, mencuci kaki juga berfungsi membersihkan kaki dan kotoran, berupa debu, bakteri, dan lainnya yang merusak kulit. Dari sisi maknawinya kaki diibaratkan alat transportasi tubuh, ia dapat melangkah ke mana-mana, ke tempat yang baik dan buruk. Saat mencuci kaki ketika berwudhu, kita diingatkan kembali agar melangkahkan kaki ketempat yang baik saja.Contohnya seperti ke tempat shalat yang sebentar lagi dilakukan saat selesai wudhu.
Bersama
air wudhu, dosa-dosa kita dibersihkan, sebagaimana diriwayatkan Abu
Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, ”Apabila seorang hamba muslim atau
mukmin berwudhu, tatkala ia membasuh wajahnya keluarlah dari wajahnya
seluruh dosa yang dilakukan matanya bersamaan dengan air itu atau dengan
tetesan terakhirnya.
13/03/12
Bidadari shurga
Sabda Rasulullah SAW dalam hadis Riwayat Muslim, "Harta yang paling berharga di dunia adalah wanita yang solehah."
Ramai manusia menisbahkan kemulian wanita pada kecantikan semata-mata.
Ada juga yang menisbahkan kemuliaan mereka pada kekayaan, dan tidak kurang juga pada keturunan.
Tetapi ini semua adalah penilaian oleh insan yang buta mata hatinya.
Sesungguhnya kemuliaan semua makhluk Allah SWT adalah terletak pada tahap ketaqwaan kepada Allah SWT.
Wanita adalah makhluk Allah yang amat istimewa.
Kemuliaan
dan keruntuhan sesuatu bangsa terletak di tangan wanita, walaupun
mereka diselubungi kelemahan, tapi teriakan mereka mampu merubah
segalanya.
Kerana itulah sebagai anak, dia perlu menjadi anak yang solehah.
Manakala sebagai isteri, dia menjadi isteri yang menyenangkan dan menenangkan hati suaminya.
Sebagai ibu pula, dia akan mendidik anaknya dengan penuh kasih dan sayang.
Firman
Allah SWT dalam surah An-Nisa' ayat ke-24 yang bermaksud, "Barangsiapa
yang mengerjakan amalan yang soleh baik lelaki mahupun wanita sedang ia
seorang yang beriman maka mereka itu masuk ke dalam syurga dan mereka
tidak dianiaya walau sedikitpun."
Dalam
Islam wanita amat dihormati dan dihargai peranannya. Sebagaimana
eratnya hubungan siang dan malam yang saling melengkapi, begitu juga
lelaki dan wanita diciptakan untuk saling melengkapi.
Setiap
lelaki dan wanita memiliki tugas-tugas dan kewajipan-kewajipan yang
berlainan, sesuai dengan fitrah masing-masing. Namun, matlamat hidup
setiap lelaki dan wanita adalah sama, iaitu mencari keredhaan Allah SWT.
Rasulullah
SAW telah memerintahkan supaya kaum wanita diperlakukan menurut fitrah
ia dijadikan sebagaimana dalam sabdanya yang bermaksud,
"Berlaku
baiklah terhadap kaum wanita lantaran mereka diciptakan dari tulang
rusuk yang bengkok adalah bahagian yang teratas, jika kamu cuba untuk
meluruskannya kamu akan mematahkannya dan jika kamu membiarkannya ia
akan tetap bengkok, maka berlaku baiklah terhadap kaum wanita kamu." - Hadis Riwayat Al-Bukhari dan Muslim
Nilai
wanita bukan terletak pada pakaiannya yang menonjol, berhias diri untuk
memperlihatkan kecantikannya, tetapi hakikatnya ialah pada kesopanan,
rasa malu dan keterbatasan dalam pergaulan.
Wanita
solehah itu adalah wanita yang tegar menjaga maruah serta apa yang
lahir dari dirinya, dari hujung rambut hingga hujung kaki, termasuklah
wajahnya, suaranya, senyum tawanya, jalannya, tulisannya hatta namanya
sekalipun.
Wajahnya bukan aurat tetapi ada kalanya ia menjadi aurat
Dalam mazhab syafie ada khilafnya berdasarkan ayat ke-30 dalam surah an-Nur.
Allah melarang wanita beriman menunjukkan perhiasannya, kecuali apa yang telah zahir daripadanya.
Ulama
Syafie berpendapat makna "apa yang zahir daripadanya" adalah muka dan
tapak tangan, tetapi bagi wajah yang boleh mengundang fitnah, ia tetap
menjadi aurat.
Wanita
yang khuatir wajahnya boleh melalaikan lelaki yang memandangnya pasti
akan menganggapnya sebagai aurat, lalu mengenakan purdah pada wajahnya.
Mungkin
berat bagi wanita bergelar remaja untuk mengamalkannya, tapi cukuplah
dengan tidak terlalu menonjolkan diri mereka di hadapan ajnabi atau
tidak menjadikan wajah mereka sebagai paparan umum seperti friendster,
facebook dan lain-lain.
Suaranya bukan aurat, tapi ada kalanya ia menjadi aurat.
Wanita yang memahami erti kesolehan tidak akan melembutkan suaranya di hadapan ajnabi kerana memahami perintah Allah SWT.
"Maka
janganlah kamu melemah lembutkan suara dalam bebicara sehingga bangkit
nafsu orang yang ada penyakit hatinya." (Surah Al-Ahzab, 33)
Jadi, bertegaslah apabila berurusan dengan lelaki ajnabi.
Pergaulan yang betul telah Allah ajarkan melalui kisah dua orang puteri Nabi Syuib AS.
Bagaimana
mereka ketika ingin memberi minum haiwan ternakan, mereka dapati ramai
pengembala di sumur. Hajat mereka tidak kesampaian.
Nabi Musa AS telah mengambil alih tugas mereka.
Apabila
selesai memberi minum haiwan ternakan tersebut, salah seorang daripada
puteri tersebut mendatangi Nabi Musa AS dengan keadaan malu untuk
menyampaikan pesanan ayahnya menjemput Nabi Musa AS ke rumahnya.
Daripada
peristiwa ini, Allah menggambarkan wanita solehah itu adalah wanita
yang tidak memdedahkan dirinya kepada pandangan umum.
Apabila ia berurusan dengan lelaki ajnabi, maka ia akan tunduk dan melahirkan rasa malu.
Berurusanlah dengan ajnabi tanpa mendatangkan keadaan khalwat (berdua-duaan).
Khalwat paling mudah berlaku dalam hubungan cinta terlarang. Khalwat juga adalah bunga-bunga zina.
Berbual-bual
di telefon atau SMS di antara lelaki dan wanita kerana dasar cinta
terlarang sehingga menyebabkan nafsu syahwat bergelora juga dikira
sebagai khalwat kerana ia berlaku secara berdua-duaan.
Saidina Umar r.a berkata, "Aku lebih rela berjalan di belakang seekor singa daripada berjalan di belakang seorang wanita."
Seorang
wanita solehah tidak akan membiarkan lelaki berjalan di belakangnya
kerana dia faham seribu satu fitnah boleh timbul daripada keadaan
tersebut.
Bagaimana pula keadaan wanita yang tidak melabuhkan jilbabnya apabila lelaki berjalan di belakangnya?
Maka, labuhkanlah tudungmu.
Ketahuilah
bahawa pada pagi hari perintah berjilbab diwahyukan kepada Rasulullah
SAW,seorang sahabiyah yang masih tidak tahu tentang wahyu tersebut telah
keluar dari rumahnya tanpa jilbab. Kemudian seseorang telah menegurnya,
"Mengapa engkau tidak berjilbab, adakah engkau tidak tahu tentang
perintah memakainya?"
Lalu
wanita tersebut berhenti melangkah dan menyuruh seseorang mengambil
jilbabnya, lalu beliau berkata, "Aku tidak mahu selangkah pun aku
berjalan dalam keadaan melanggari perintah Allah SWT."
Malangnya
hari ini apa yang terjadi kepada wanita Islam; bertahun-tahun belajar
Islam tetapi masih tiada kekuatan untuk mengamalkannya.
Saudariku,
Bangkitlah dari lenamu yang panjang dan tidak berkesudahan.
Sekali kamu terjatuh, jangan biarkan diri kamu jatuh selamanya.
Kamu punya kekuatan untuk bangkit semula, walaupun kita berdosa sebanyak buih yang memutih di lautan.
Yakinlah kasih sayang dan keampunan Allah terlalu luas.
Saudariku,
Hidup
ini seperti mimpi, seorang pengemis bermimpi menjadi seorang raja,
dipuji dan dipuja, segala kemuliaan dan kekayaan tunduk kepadanya, tapi
bila dia sedar dari lenanya, dia masih seorang pengemis yang miskin dan
tidak punya apa-apa.
Seorang
raja yang bermimpi, menjadi seorang pengemis yang miskin dan hodoh, dia
dihina dan dikeji di setiap persimpangan yang dilalui, tapi bila raja
itu sedar dari lena, dia tetap seorang raja.
Matanglah
dalam urusan akhiratmu. Jangan kerana kesenangan dunia yang sementara,
kau sanggup menempah sengsara di akhirat selamanya.
Janganlah
kerana kasih makhluk yang sementara, kau hilang kasih Allah SWT di
akhirat sana. Jika kau hilang kasih Allah SWT, nescaya kau akan hilang
segalanya.
Saudariku,
Saidatina Aisyah RA pernah berpesan,
"Sebaik-baik wanita adalah yang tidak memandang dan dipandang"
Jangan kau berasa bangga dengan kecantikanmu sehingga kau dikejar jutaan lelaki. Itu bukan kemuliaan bagimu.
Jika kau berasa bangga, kau menyamakan dirimu dengan pepasir di pantai, yang boleh dipijak dan dimiliki sesiapa sahaja.
Muliakanlah dirimu dengan taqwa, setanding mutiara Zabarjad, yang hanya mampu dimiliki penghuni syurga.
05/03/12
Hidayah ada di dalam genggamaNya
Kejadian ini terjadi sekitar th 2008 yang lalu
Pada waktu itu saya bekerja pada salah satu perusahaan swasta di Jakarta selatan yang bergerak di bidang peternakaan,di lingkungan ini saya mempunyai banyak teman dari berbagai daerah dan berbeda suku .Disinlah aku mulai belajar arti perbedaan dalam hidup karena tidak semua teman-temanku beragama muslim,bahkan pada waktu itu aku pun menjalin hubungan dengan wanita non muslim.singkat cerita hubungan aku dengan wanita itu semakin dekat hingga aku berani berjanji aku menikahi gadis itu dan berpindah kepercayaan mengikuti ajaran agamanya .Sampai pada suatu ketika aku rela membatalkan puasaku hanya demi gadis itu ,betapa bodohnya aku rela membatalkan puasaku hanya demi cintaku pada seorang wanita tanpa mengingat cintaku pada Allah SWT dan RasullnyaDi sinilah aku mulai bingung untuk menentukan pilihan di satu pihak aku sangat mencintai wanita itu ,dan di satu sisi antara hubunganku dengan Tuhan.
Setiap hari dalam hatiku hanya memikirkan wanita itu betapa bodohnya aku tidak pernah beristiqfar mengingat Allah SWT hingga terdengan kabar wanita itu menjalin hubungan dengan lelaki lain
Meskipun aku telah mendengar berita itu aku masih tetap mengejar-ngejar dia untuk mendaptkan cintanya,hari-hariku hanya di bayangi khaylan-khayalan dunia saja bahkan aku sampai mempercayai seorang dukun untuk mendapatkan kembali cintanya tetepi nasib berkata lain dukun pun tak mampu mengembalikan cintanya padaku aku pun mulai frustarsi dan stress.
Dari sinilah aku mulai mencari-cari penolong yang sesungguhnya,penolong yang dapat membuat hatiku tenang ,dan dapat memberi petunjuk kejalan yang benar ,hingga pada suatu ketika aku di ajak oleh salah seorang teman kerjaku ke suatu majelis di daerah Hayam wuruk yang terkenal dengan nama Masjid Jami kebon jeruk.Pada saat pertama kali saya datang ke tempat itu pikiranku mulai tak karuan perasaan takut,minder ,malas dan sebagainya di tempat inilah aku mulai mendengarkan ceramah (bayan) olah para kyai awalnya biasa saja tetepi lama-kelaman topik pembicaraanya mulai membuatku tertarik untuk memperdalamnya .
Di situlah aku mulai berfikir bagaimana cara agar kita mendapatkan kesuksesan dunia dan akhirat
ternyata cara itu hanya bisa berhasil dengan mengikuti cara Rasullulah SAW seperti para sahabat yang telah sukses dan mampu mengamalkan agama secara sempurna
Di Masjid Jami kebon jeruk ini para jamaahnya di ajarkan bagaimana caranya mengamalkan agama secara sempurna dengan mengikuti cara Rasullulah SAW yang berpedoman pada AL-quran dan Hadist
.Aku pun mulai rutin mengikuti pengajian tersebut setiap malam jumat dan mulai mengamalkan sunah-sunah Rasullulah dengan mengikuti program-program yang telah di bentuk oleh para jamaah di masjid tersebut .Hingga ahkirya aku berani mengorbankan ,harta ,diri ,keluarga,pekrjaan dan waktu untuk keluar di jalan Allah SWT
Di pimpin oleh seorang Amir aku mulai mengikuti rombongan yang akan menyambangai saudara-saudara kita yang mulim di desa bojong kota Depok ,dengan bermodalkan uang secukupnya aku mulai mengikuti program rombongan singgah di masjid yang pertama hari pertama kulalui dengan rasa penasran ( sambil bertanya-tanya dalam hati apasih ? maksud tujuannya program ini )hingga akhirnya pada hari kedua aku mulai menangis ,menangisi dosa-dosa yang telah aku perbuat ketika sedang mendengarkan talim -talim yang di bacakan oleh salah seorang jamaah yang benar-benar menyentuh hati dan pikiranku yang selama ini di butakan oleh perkara -perkara Dunia yang sifatnya hanya sementara saja dang mengabaikan sunah-sunah Rasullulah SAW dan perkara akhirat yang selama-lamanya
Setelah satu minggu mengikuti program tersebut kehidupanku berubah 180 derajat dari sebelumnya dan aku mulai belajar menjalankan sunah-sunah Rasullulah SAW dang mengamalkanya
Di situlah aku mulai sadar bahwa hijabku telah di buka oleh Allah SWT hidayah telah menghampiriku walupun dengan jalan yang berbeda-beda, sesuai kehendak Allah SWT
Mariah kita berdoa kepada Allah SWT agar hidayah turun di seluruh alam kepada saudara-sadara kita yang belum memahami maksud tujuan hidup yang sesungguhnya dan mengajak saudara -saudara kita untuk turut ambil bagian dalam usaha yang sangat mulia ini yaitu Dakwah wa tabliqh yang artinya mengajak dan menyampaikan
Langganan:
Postingan (Atom)

